
Kemunculan punk dipengaruhi sekelompok orang yang menamakan diri sebagai The Hippies. Tahun 1960 merupakan tahun bagi The Hippies populer yang tidak hanya dikenal berkat gerakan-gerakan protesnya menentang norma-norma seksual yang puritan, etika protestan, gerakan-gerakan mahasiswa menentang perang, anti senjata nuklir, anti masyarakat yang fasis, militeris, birokratis, tidak manusiawi dan tidak natural, tetapi juga mendunia lewat simbol-simbol yang dikenakannya.
****
Sepuluh tahun kemudian, gaya hippies yang pada awalnya tumbuh untuk menentang kemapanan ini mendapat serangan dari golongan The Skinheads. Sama halnya dengan kaum hippies, orang-orang skinheads juga menentang kemapanan meskipun dengan alasan yang berbeda. Pada awalnya skinheads adalah term atau istilah untuk menunjuk orang-orang yang botak dan gundul. Kemudian di Inggris pada tahun 1975 muncullah punk yang antikemampanan, kapitalis dan komersialisme. Sama seperti para pendahulunya, punkers juga menyatakan dirinya lewat dandanan pakaian dan rambut yang berbeda.
****
Craig O’Hra dalam The Philosophy of Punk (1999) mendefinisikan punk lebih luas, yaitu sebagai perlawanan “hebat” melalui musik underground, gaya hidup, komuniti dan kemudian menciptakan kebudayaan sendiri.
Punk lahir dari jalanan tempat orang-orang tertindas yang benci pada orang kaya, termasuk pada kemapanan. Orang-orang punk menyatakan dirinya sebagai golongan yang anti-fashion, dengan semangat dan etos kerja ‘semuanya dikerjakan sendiri’ (do-it-yourself) yang tinggi.
Punkers disatukan oleh musik. Musik punk beraliran keras, sama seperti jenis musik underground lainnya. Yang membedakan musik punk dengan jenis musik underground lainnya yaitu muatan yang terkandung dalam lirik musik tersebut. Lirik musik punk merupakan manifestasi kebencian para punkers pada kapitalisme, negara, kemapanan dan peperangan atau lebih pada kehidupan sosial.
****
Contoh lirik musik punk :
BANGSAT NEGARA *
Lenyapkan Semua bangsat dan negara
Hukumlah pengkhianat bangsa
Gugatlah semua bentuk penyelewengan
Hancurkanlah propaganda pemerintah
Bersihkan negara kita
Dari bangsat negara
SECOND FREEDOM *
“It’s start from a long time, since we has got our freedom. But why many people still suffer? This time we must change the system. And get your SECOND FREEDOM.”
In the past we got free
But people still suffer
Fuckin’ rules, fuckin’ system
They get poor cause of you
Give me back
Our freedom
* Lirik ditulis oleh personil band Second Freedom (band punk lokal Bandung yang sudah tidak aktif lagi)
****
Band musik dalam negeri beraliran punk di antaranya yaitu Teater Junior, Keparat, Jeruji dan Second Freedom. Sementara dari Inggris, band musik indie Sex Pistols dikenal sebagai pelopor aliran punk.
****
Ciri khas gaya punk yaitu celana jins sobek-sobek, peniti cantel (safety pins) yang dicantelkan atau dikenakan di telinga, pipi dan model rambut spike-top atau mohican. Model rambut spike-top atau model rambut yang dibentuk menyerupai paku-paku berduri adalah model rambut standar kaum punk. Sementara model rambut mohican atau biasa disebut dengan mohawk yaitu model rambut yang menggabungkan gaya spike-top dengan cukuran di bagian belakang dan samping untuk menghasilkan efek bentuk bulu-bulu yang tinggi atau sekumpulan kerucut, hanya dipakai oleh sedikit penganut punk. Kadang-kadang mereka mengecat rambutnya dengan warna-warna cerah seperti hijau menyala, pink, ungu, dan oranye. Menurut kaum punk, maksud dari dandanan seperti ini adalah menunjukkan kebencian punker kepada kaum kapital. Tindikan-tindikan di tubuh dan asesoris lain mengibaratkan mereka adalah anjing – dalam arti kaum yang termarginalkan.
Punk, dengan keberadaan para pengembannya yang biasa disebut sebagai punkers atau kaum punk menjadi sebuah pemikiran yang eksis di tengah-tengah masyarakat. Meskipun minoritas ide ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian yang menarik, karena sejatinya dalam kehidupan sosial dikenal berbagai macam realitas pemikiran dan komunitas dalam masyarakat.
Meskipun penampilan kebanyakan punkers umumnya urakan dan cenderung menyeramkan, namun mereka memiliki hati yang baik dan sangat terbuka kepada siapapun yang ingin berdiskusi dengan mereka. Dalam wawancara penulis dengan Erwin dan Deni – keduanya mantan punkers, diperoleh kesimpulan bahwa tidak ada keterbatasan bagi siapa saja yang ingin bergabung dalam komunitas punk. Para punkers yang masih ‘aktif’ pun mengemukakan hal yang sama, bahwa punk dengan pemahaman kebebasan dan kemerdekaannya, memberikan keleluasaan bagi siapa saja yang ingin menjadi bagian komunitas punk. Ocha, Wow dan Acil (punkers) mengatakan bahwa kedudukan para punkers adalah ‘duduk sama rendah, berdiri sama tinggi’. Senada dengan hal ini, Nicky (pengelola Toko Buku, Distributor dan Penerbit Ultimus di daerah Lengkong- Kota Bandung -- salah satu base camp punkers di kota Bandung) mengatakan bahwa tidak ada garis hierarki dalam komunitas punk.
****
Punk di mata Ocha adalah cara hidup. Begitu pun dalam penilaian Deni, Wow dan Acil. Sementara Erwin dan Nicky mengatakan bahwa memang terjadi perbedaan penafsiran mengenai makna punk di antara komunitas punk itu sendiri. Misalnya menurut Erwin, punk itu dimaknainya sebagai semangat untuk mengubah diri menjadi lebih baik dalam kacamata punk.
Menurut Nicky, perbedaan penafsiran yang terjadi di kalangan punkers merupakan hal yang wajar karena adanya perbedaan latar belakang, seperti tingkat pendidikan, pengetahuan dan pengalaman hidup. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan dapat mempengaruhi seseorang baik dalam pola pikir maupun pola sikap. Guna menjembatanai perbedaan yang terjadi, punkers biasanya mengadakan diskusi terbuka. Contohnya komunitas punk di kawasan Balai Kota Bandung biasanya mengadakan diskusi terbuka tentang ‘Neo-Liberalisme’ setiap minggunya. Forum ini diadakan setiap malam selasa sekitar jam tujuh malam dan terbuka untuk umum serta tidak dikenakan biaya. Semuanya difasilitasi oleh Ultimus sebagai bentuk solidaritas Ultimus terhadap komunitas-komunitas eksis yang membutuhkan sarana bagi pergerakan mereka, termasuk pada komunitas punk. Adapun tema yang diangkat dalam diskusi mereka adalah mengenai Neo-Liberalisme, secara konsep maupun fakta terbaru. Sementara pemikiran mereka dapat juga dibaca dalam salah satu newsletter yang mereka buat sendiri dan didistribusikan secara cuma-cuma kepada masyarakat yang diberinama ‘Jurnal Apo-Kalips’ yang terbit setiap dua bulan sekali.
****
Satu persamaan yang ada di kalangan punkers adalah penolakan mereka terhadap sistem. Pemikiran ini tertuang dalam konsep ‘ANARKI’. ‘ANARKI’ berasal dari kata ANARCHY yang merupakan akronim dari “A” yang berarti tidak dan “NARCHY” yang berarti negara. Berbeda dengan definisi yang dipahami masyarakat kebanyakan, kata ‘ANARKI’ mengandung pengertian bahwa kaum punk membenci keberadaan negara dan sistem. Definisi ini sama sekali tidak mengandung arti kekerasan, karena sejatinya kaum punk hanya melakukan aksi protes terhadap sistem yang ada melalui musik, gaya dan pemikiran.
.
Mengutip apa yang disampaikan Nicky, punk lahir sebagai bentuk dari ‘kontra kultur’. Ocha mengatakan bahwa punk merupakan apresiasi kebencian terhadap kapitalisme yang sudah memanfaatkan tenaga manusia dan terkesan pilih-pilih. Untuk menguatkan argumentasi ini, Ocha memberikan contoh buruh pabrik yang sudah mengeluarkan tenaga ekstra untuk produksi massal tetapi gaji yang diberikan hanya sebatas UMR yang masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Atau kasus sistem kontrak yang dialami para buruh, padahal rata-rata buruh yang berasal dari golongan rendah sangat membutuhkan pekerjaan tetap untuk mencari nafkah. Kapitalisme juga telah menciptakan kemiskinan struktural. Banyak masyarakat korban penggusuran dan penyitaan rumah, terutama di Indonesia yang dapat dikategorikan sebagai negara berkembang (bahasa halus PBB dalam menilai negara msikin). Jumlah komunitas punk di Indonesia menduduki peringkat ketujuh dunia akibat sistem kapitalisme yang menciptakan pengangguran struktural.
Menurut Deni, punk lahir karena adanya kesenjangan antara kaum the have dengan orang-orang berpenghasilan pas-pasan. Makanya tidak heran jika banyak juga di antara punkers yang berasal dari keluarga kaya akhirnya meninggalkan kehidupan yang serba glamour dan memilih menjalani hidupnya bersama punkers lainnya di pinggiran jalan.
Menurut Wow dan Acil alasan ketergabungan seseorang dalam komunitas punk haruslah berlandaskan pada persamaan visi, yaitu membenci kapitalisme. Tidak peduli apa yang akan diwujudkan setiap individu punker dalam mengapresiasikan kebenciannya itu. Deni mengatakan bahwa dulu punkers seringkali menggunakan kekerasan sebagai wujud ketidaksenangan mereka terhadap sistem kapitalisme yang kian menyengsarakan masyarakat marginal. Namun, kini punkers sudah sedikit lebih progressif karena sudah bisa mengapresiasikan kebencian mereka melalui pembentukan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), klub baca, komunitas anti literasi, sekolah alternatif dan jauh lebih toleran. Hal ini memang terbukti karena penulis merasakan nuansa keterbukaan di antara punkers untuk berdiskusi meskipun ego dari masing-masing pihak masih sedikit terasa.
****
Perhatian punkers terhadap lingkungan sekitarnya membuktikan bahwa eksistensi mereka bukanlah sekedar pada gaya dan musik. Aliran musik keras tidak selalu mengindikasikan ketertutupan. Justru mereka sepakat dan sangat terbuka jika ada pihak-pihak yang ingin bertukar pandangan mengenai permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. Misalnya dalam wawancara dengan Wow dan Acil, mereka menanyakan pendapat penulis dan rekan tentang RUU APP.
Ide khas punk adalah kebebasan berkarya tanpa rasa takut adanya ancaman dari luar, seperti cap sampah yang dilontarkan masyarakat pada umumnya. Punk meyakini prinsip DIY (do-it-yourself), artinya ‘bagaimana kita memahami dan menentukan hidup kita sendiri’ (motto jurnal Apo-Kalips). Maknanya adalah punkers sejati hidup dari dan untuk komunitasnya. Misalnya dalam kehidupan berekonomi, punkers pada umumnya membuat band yang mandiri. Band-band ini mengawali karirnya dengan modal sendiri, misalnya dengan jalanan ‘urunan’ dari orang-orang yang mau bergabung. Ocha mencontohkan, bagi dirinya yang berprofesi sebagai pengamen cara mengumpulkan uangnya dengan mengamen setiap hari. Setelah terkumpul, uang itu digunakan untuk membuat rekaman sendiri atau dikenal dengan istilah indie labels. Tidak seperti major lebels (jenis rekaman pada umumnya), indie labels tidak terlalu komersil. Adapun penyebaran kasetnya didistribusikan secara konvensional, menggunakan efek ketok tular atau promosi dari mulut ke mulut, dititipkan ke distro atau ‘lapakan’ dengan pembayaran menggunakan uang maupun sistem barter. Contoh band seperti ini yang berhasil bertahan dengan sistem seperti ini adalah Sex Pistol (band punk asal Inggris).
****
Mengamati keterpurukan masyarakat terutama masyarakat marginal, punkers melihatnya sebagai buah dari sistem kapitalis. Mereka mengatakan untuk melawannya tentulah dengan sistem pula, dan mereka menawarkan konsep punk yang merdeka. Namun dari hasil wawancara, justru tidak nampak dari mereka keyakinan bahwa kesalahan kapitalisme adalah dari pemikirannya. Mereka mengatakan handphone dan kamera digital adalah salah satu dari produk kapitalis dan oleh karenanya harus dimininalisir penggunaannya. Walau begitu mereka menyatakan konsep yang ditawarkan punk dalam melawan kapitalis yaitu dengan membangun sebuah sistem tandingan ternyata tidak dapat diaplikasikan. Manusia tetap tidak bisa lepas dari produk-produk teknologi canggih hasil dari peradaban kapitalisme. Pendapat ini akhirnya membiaskan makna sebenarnya kebencian kaum punk terhadap sistem.
Tentang negara, kaum punk sudah muak pada status quo sistem yang dianut oleh negara ini, begitu juga pada bentuk negara apapun yang mengekang kebebasan manusia dalam berekspresi. Selain mewujudkan kebencian mereka terhadap kondisi status quo dalam bentuk gaya dan musik, sebagian dari mereka ada yang mengapresiasikannya dalam bentuk keikutsertaan demonstasi ke jalan menuntut persamaan hak dan membela kaum lemah, seperti pada kasus pencabutan dwifungsi ABRI bersama orang-orang dari komunitas Teater Buruh Indonesia Jakarta.
Aktivitas rutin punkers adalah kumpul bersama dan dalam selang beberapa waktu biasanya mereka mengadakan event-event tertentu, seperti konser musik (ginx) dan diskusi bersama. Punkers yang berasal dari kalangan ekonomi lemah biasanya disupport oleh punkers lain yang latar belakang keluarganya berasal dari golongan orang kaya. Mereka mengiringi kegiatan kumpul bersama selain dengan saling sharing, juga dengan drinking – sisi negatif dari punk. Namun dengan kondisi seperti itu mereka masih berusaha untuk bisa tampil lebih sopan pada orang luar. Wow dan Acil contohnya, mereka memberikan perhatian yang lebih pada kami untuk terus melanjutkan wawancara di antara teman-temannya yang asyik ‘minum’ bersama.
Mengenai konser musik, mereka punya agenda tersendiri. Tujuannya beranekaragam. Ada yang untuk mencari benefit, maupun sebatas kegiatan kumpul-kumpul. Untuk menunjang keberhasilan acara ini, mereka mengadakan rapat rutin setiap minggunya untuk membahas konsep acaranya. Sementara tentang dana, mereka mengusahakan sendiri dengan menciptakan produk baru untuk dijual ke kalangan mereka sendiri (konsep DIY), baik berupa kaos, CD, kaset, pin maupun asesoris lainnya, sehingga keuntungannya dapat digunakan sebagai modal mengadakan konser musik.
****
Di luar aktivitas kumpul-kumpul yang rutin diadakan oleh para punkers, mereka juga memiliki kehidupan pribadi masing-masing, sama seperti kehidupan masyarakat pada umumnya. Para punkers yang berasal dari keluarga berada umumnya meneruskan pendidikan sampai ke jenjang sarjana, karena pendidikan bagi mereka dianggap sebagai modal yang bernilai sangat penting. Sebagian dari mereka mencari mata pencaharian dengan membuka distro yang kebanyakan menjual hasil kreasi anak-anak punk. Sementara sisanya, punkers yang berasal dari keluarga yang kurang mampu kebanyakan memutuskan untuk menjadi pengamen guna membiayai keperluan hidup mereka. Meskipun punkers yang berprofesi sebagai pengamen ini rata-rata berpenghasilan rendah, namun mereka mempunyai tempat tinggal yang layak huni, umumnya menyewa kamar kontrakan atau kamar kost.
Tulisan ini disusun ulang bersumber dari penulisan terdahulu pada kesempatan mengikuti LKTM UPI-Bandung. Hasil observasi dan wawancara yang digunakan dalam tulisan ini merupakan dokumentasi observasi dan wawancara yang dilakukan penulis pada bulan Maret s.d April 2006.
* * * *